Respon Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi NTT: Tim Aju Ortopedi Unhas Dan Paboi Sulselbar Irja Tiba Di Labuan Bajo Untuk Penilaian Awal Dan Penanganan Medis Korban Fraktur

SIARAN PERS

UNTUK DITERBITKAN SEGERANomor Dokumen: 0815/SP-TANGGAP/ORTHO-UNHAS/VIII/2026 Tanggal Penerbitan: Minggu, 16 Agustus 2026 Lokasi: Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur

Kompassulsel.com |LABUAN BAJO, NUSA TENGGARA TIMUR — Sebagai langkah awal respon cepat dan tanggap darurat terhadap bencana alam gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, Departemen Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) bergerak sigap melalui kolaborasi strategis dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) Cabang Sulawesi Selatan, Barat, dan Papua (Sulselbar Irja).

Sub.spSetelah di lepas Oleh Ketua Papoi Cabang Sulselrbar irja, Dr. dr. jainal Airifij, SpOT, . TB (K),, tepat pada hari ini, Ahad 16 agustus 2026, Tim Aju (Tim Pelopor) kebencanaan resmi menginjakkan kaki di Labuan Bajo,untuk kemudian melanjutkan perjalanan melalui darat menuju Bajawa Kabupaten Manggarai Barat, untuk memulai misi kemanusiaan.

Pengiriman Tim Aju ini dirancang sebagai unit reaksi cepat yang memegang peranan krusial dalam fase krisis awal pascabencana. Tim difokuskan pada penanganan medis darurat, khususnya korban yang mengalami cedera sistem muskuloskeletal atau patah tulang (fraktur), sekaligus melakukan pemetaan menyeluruh terhadap kapasitas layanan kesehatan yang tersisa di wilayah terdampak.

MANDAT DAN STRATEGI PENANGGULANGAN DARURAT

1. latar Belakang dan Respon Cepat Organisasi
Guncangan gempa bumi berkekuatan signifikan yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi menimbulkan dampak kerusakan infrastruktur dan memicu timbulnya korban jiwa serta luka-luka.

Mengingat karakter cedera pascagempa bumi didominasi oleh trauma fisik akibat runtuhan bangunan, kebutuhan akan spesialisasi ortopedi dan traumatologi menjadi prioritas utama pada jam-jam pertama pascabencana (golden hours).

Departemen Ortopedi dan Traumatologi FK Unhas bersama PABOI Sulselbar Irja merespon kondisi ini dengan mengaktifkan protokol penanganan bencana kelautan dan kepulauan.

Pengiriman Tim Aju merupakan manifestasi dari komitmen pengabdian masyarakat dan kepedulian sosial universitas serta organisasi profesi dalam merespon bencana nasional.

2. Profil dan Komposisi Tim Aju

Tim Aju kebencanaan ini terdiri dari dua personil dokter ahli yang memiliki kualifikasi khusus dalam manajemen penanganan trauma di area bencana, yaitu:

Dr. Muhammad Miftah SpOT (Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi)
Dr. Prasetya Yudha( Residen Ortopedi dan Traumatologi Unhas)
Kedua personil ini dibekali dengan kompetensi lapangan tinggi untuk bergerak mandiri (self-sustaining) dalam kondisi keterbatasan fasilitas, serta memiliki otoritas medis untuk melakukan tindakan operatif darurat maupun navigasi logistik kesehatan.

OPERASIONAL LAPANGAN DAN METODOLOGI ASSESMEN

3. Logistik Medis dan Peralatan Operasi Khusus

Untuk memastikan tindakan medis dapat segera dilakukan tanpa bergantung penuh pada ketersediaan fasilitas lokal yang mungkin lumpuh, Tim Aju membawa serta perlengkapan medis spesifik trauma ortopedi. Peralatan yang dimobilisasi meliputi:

Set Instrumen Bedah Darurat Ortopedi: Alat debridemen jaringan lunak, instrumen amputasi darurat, dan set bedah minor-mayor portabel.
Perangkat Fiksasi Luar (External Fixation Sets): Peralatan fiksasi tulang darurat untuk menstabilkan patah tulang terbuka (open fractures) skala berat sebelum pasien dapat dirujuk atau menjalani operasi definitif.
Logistik Imobilisasi: Gips (plaster of Paris / fiberglass), splint (bidai), cervical collar, dan verband elastis dalam jumlah yang memadai untuk imobilisasi cepat di ruang darurat darurat.
Obat-obatan Kritis: Analgesik derajat tinggi, antibiotik spektrum luas intravena, antiseptik, serta cairan resusitasi.

4. Penilaian Kesehatan Cepat (Rapid Health Assessment)
Setibanya di titik transit utama di Labuan Bajo, Tim Aju langsung bersiap melanjutkan perjalanan darat menuju pusat-pusat pemukiman dan titik bencana di wilayah Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten lainnya. Di sepanjang koridor terdampak, tim menjalankan metodologi Rapid Health Assessment (RHA) yang mencakup tiga pilar penilaian utama:

Penilaian Kondisi Lapangan dan Sebaran Korban
Pendataan jumlah korban dengan cedera ortopedi (fraktur tertutup, fraktur terbuka, dislokasi, hingga cedera tulang belakang).
Pemetaan sebaran geografis korban cedera yang belum terjangkau oleh tim medis dasar.

Evaluasi Integritas Fasilitas Kesehatan
Inspeksi fisik terhadap keutuhan struktur bangunan Puskesmas dan Rumah Sakit Daerah (RSUD).
Penilaian operasional ketersediaan ruang operasi (operating theater), pasokan listrik darurat (genset), ketersediaan air bersih, serta ketersediaan oksigen medis.

Inventarisasi Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan

Pemeriksaan kondisi fisik dan tingkat kelelahan tenaga medis lokal.
Pemetaan kebutuhan dokter spesialis pendukung (Dokter Spesialis Anestesi, Dokter Spesialis Bedah Umum, Perawat Bedah) untuk gelombang bantuan berikutnya.

MANAJEMEN KOLABORASI DAN RENCANA MOBILISASI SUSULAN

5. Koordinasi Lintas Lembaga dan Triage Terpadu
Guna mengoptimalkan alur penanganan darurat, Dr. Miftah dan Dr. Prasetya membangun komunikasi dan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan kunci di lapangan. Langkah-langkah koordinasi meliputi:

Pemerintah Daerah & BPBD Kabupaten Manggarai Barat: Menyelaraskan peta jalur evakuasi dan pembagian sektor penanganan medis.
Dinas Kesehatan Provinsi NTT & Kabupaten:

Mengintegrasikan data sistem rujukan serta pelaporan harian korban bencana.
Jajaran TNI / POLRI dan Tim SAR Gabungan:

Mengoordinasikan sarana transportasi penjemputan korban fraktur dari daerah terisolasi yang sulit dijangkau kendaraan roda empat biasa.
Sistem triage penanganan cedera ortopedi langsung diterapkan pada setiap fasilitas kesehatan aktif yang dikunjungi.

Pasien dengan fraktur terbuka berat dan risiko infeksi tinggi diberikan tindakan imobilisasi serta pembersihan luka (debridement) darurat di tempat sebelum penanganan definitif dilakukan.

6. Proyeksi Pengiriman Tim Bantuan Gelombang II (Tim Utama)

.Hasil penilaian akhir dari RHA yang disusun oleh Tim Aju akan menjadi pijakan data empiris bagi Departemen Ortopedi FK Unhas dan PABOI Sulselbar Irja untuk memberangkatkan Tim Medis Gelombang Kedua (Tim Utama).

Apabila indikasi di lapangan menunjukkan dibutuhkannya penanganan operatif kompleks dalam jumlah besar, Tim Utama yang terdiri dari para Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan (Sub-spesialis Trauma, Pediatrik, dan Spine), Dokter Spesialis Anestesi, Perawat Instrumen Operasi, serta bantuan logistik implan ortopedi (plate, screw, nail) siap diterjunkan dalam waktu 1x 24 jam setelah rekomendasi Tim Aju dikeluarkan.

7. Pernyataan Resmi Organisasi

Perwakilan pimpinan tim menyatakan bahwa kehadiran Tim Aju merupakan respon cepat berbasis kemanusiaan dan profesionalisme medis.
“Prioritas utama Tim Aju saat ini adalah memastikan korban fraktur akibat gempa mendapatkan stabilisasi medis awal untuk mencegah komplikasi permanen atau kecacatan, sekaligus memastikan kesiapan ruang operasi dan fasilitas penunjang di Manggarai Barat. Kami bekerja berpacu dengan waktu untuk memastikan seluruh infrastruktur rujukan siap menerima bantuan tim spesialis yang lebih besar dalam waktu dekat.” Kata. dr. JAinal Arifin.

Departemen Ortopedi dan Traumatologi FK Unhas bersama PABOI Sulselbar Irja terus berkomitmen mendampingi masyarakat Nusa Tenggara Timur melewati masa krisis ini hingga tahap pemulihan kesehatan pascabencana selesai.(Rls)Editor : Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *